Dikutip dr WA dr. Wayan Mustika
Saat kita kehilangan kewaspadaan dalam sekian detik, nyamuk itu hinggap lalu membuat luka yang sungguh sangat kecil dengan gigitannya. Lalu ia menghisap hanya setetes dua tetes yang cukup untuk menggelembungkan perutnya.
Tapi lihatlah. Setelah itu kita mesti memasukkan tetesan demi tetesan cairan infus berbotol-botol untuk menggantikannya. Kita harus waspada terus menerus memeriksa kondisi vital tubuh kita, demi mengganti kewaspadaan singkat yang pernah terabaikan dulu.
Ah, Aedes Aegypti itu lalu terbang mendengung seakan menitip pesan;
"Begitulah saat akal budimu tidak waspada dan membiarkan batinmu tersakiti hanya oleh kata-kata, sifat atau perilaku yang tidak penting dari orang lain. Betapa banyak kemudian energi mesti kau habiskan hanya untuk memadamkan bara kemarahan dan menguras sisa dendam yang mengendap."
"Hanya karena tersakiti oleh sedikit kalimat buruk tak penting yang kau dengar dengan telingamu, berapa banyak kemudian petuah-petuah bijak mesti kau dengar untuk mendamaikan dan menyembuhkan luka hatimu."
"Hanya karena sedikit sikap buruk seseorang terlihat oleh matamu dan menyisakan rasa sakit di batin, berapa banyak kemudian kalimat-kalimat indah yang menenangkan dan mendamaikan harus kau tatap dengan matamu."
"Hati-hati pada setiap gigitan kata-kata dan sikap seseorang padamu, Manu. Karena itu bahkan bisa membuat hidupmu panas dan berdarah-darah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar